Sejarah tentang Ilmu Manajemen Pemasaran atau Marketing Management

Marketing lahir sebagai ilmu justru berawal dari ilmu periklanan (advertising). marketing pertama kali diajarkan dalam kelas oleh ED. Jones pada tahun 1906 di University of Michigan dan kemudian oleh Simon Litman di University of California pada tahun itu juga.

Marketing selanjutnya lebih dipandang sebagai ilmu distribusi (distribusi masal), dan pengajarannya pun semakin luas pada universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Sedangkan dipandang dari sudut advertising, marketing sudah berkembang lebih dulu pada paruh terakhir abad ke-19, melalui penerbitan buku-buku yang berhubungan dengan advertising.

masa-masa terkemudian, marketing diajarkan dengan tiga elemen utama, yaitu advertising, selling dan distribution. Dan selanjutnya perlahan namun pasti, unsur-unsur lain pun mulai dimasukan dalam pemikiran-pemikiran marketing.

Di antaranya, konsep konsumsi, perilaku pasar, dan seterusnya.

Marketing tumbuh sebagai ilmu modern, seperti dikenal pada saat ini, karena dorongan para ahli yang turut serta menyumbang pemikiran di dalamnya.

Para ahli ini dibagi dalam 4 kelompok utama, yaitu:

1. Kelompok pendiri adalah mereka yang melahirkan marketing sejak dari pertama, yang meletakan dasar-dasar marketing seperti yang sudah disebutkan diatas, di mana marketing memiliki 3 elemen dasar utama.

2. Kelompok akademisi, di antara mereka adalah Philip Kotler, Theodore Levitt, dan lain sebagainya. Masa ini ditandai dengan pengembangan ke arah modernisasi pemikiran marketing, dan pemanfaatan ilmu-ilmu lain yang relevan dalam bidang marketing, seperti psikologi sosial.

3. Kelompok konsultan. Jumlah mereka cukup banyak. Pemikiran mereka tidak semata-mata pada penelitian yang bersifat kuantitatif, tetapi lebih mengarah pada pengamatan dan observasi yang bersifat subjektif. Di antara mereka ini adalah Jack Trout dan Al Ries.

4. Kelompok praktisi, adalah mereka yang tadinya bekerja dalam bidang pemasaran, pernah memegang jabatan tinggi bidang marketing di dalam suatu perusahaan besar dan seterusnya. Pemikiran mereka lebih berorientasi kepada pengalaman mereka pribadi selama mereka bekerja. Sehingga pemikiran mereka bersifat aplikatif.

Ilmu marketing atau pemasaran lebih tinggi dari sekadar menjual atau berdagang (ilmu dagang/selling).

Marketing mencakup juga mengenai “rekayasa produksi yang sesuai dengan “kebutuhan pasar”. Informasi informasi mengenai trend, kualitas, jumlah produksi, desain atau model barang yang harus diproduksi diperoleh dari bidang marketing. jadi, sebenarnya orang orang yang bekerja di bagian produksi adalah “buruh” dari orang orang marketing.

Marketing jelas dimulai dr kegiatan pertukaran entah antar pribadi dengan pribadi, kelompok dan seterusnya. Pertukaran ini mebutuhkan suatu konsensus bersama di antara pihak-pihak yang melakukan pertukaran tersebut. Tetapi pertukaran ini sendiri tak dapat disebut sebagai ilmu marketing. Karena sebenarnya kegiatan tersebut lebih bersifat praktis ekonomi semata.

Sesuai dengan perkembangan ekonomi masyarakat, konsep pemasaran selalu berubah-ubah. Jika ditinjau berdasarkan sejarahnya maka perekonomian masyarakat dapat dikelompokan menjadi delapan tahap (stages), yaitu :

1. Tahap swadaya ekonomi (the stage of economic self sufficiency)
Tahap ini mencerminkan bahwa setiap unit keluarga berusaha memenuhi sendiri semua kebutuhan hidupnya. Pada tahap ini dapat dikatakan “tidak terdapat” pertukaran, sehingga konsep pemasaran juga belum ada.

2. Tahap kepemilikan bersama yang primitive ( the stage of primitive communism)
Pada tahap ini beberapa unit keluarga secara bersama-sama berusaha memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi bentuk “kekayaan” seperti tanah, ternak, atau rumah merupakan milik bersama. Jadi tidak terdapat milik perorangan, dan mengingat pada tahap ini pertukaran tidak terdapat, maka konsep pemasaran juga belum ada.

3. Tahap barter yang sederhana ( the stage of simple barter )
Pada tahap ini terdapat kegiatan produksi yang dilakukan oleh masing-masing unit usaha yang tidak saja dilakukan oleh perorangan melainkan juga oleh keluarga. Tiap unit usaha menghasilkan barang tertentu sehingga mencerminkan adanya spesialisasi produksi.

Oleh karena masing-masing unit usaha menghasilkan barang tertentu, maka untuk memenuhi kebutuhan barang lainnya masing-masing harus menukar surplus hasil produksi secara barter. Dengan demikian pada tahap ini tumbh proses pertukaran dalam bentuk mencari dan tawar-menawar, sehingga pertukaran (barter) ini merupakan dasar untuk merumuskan konsep pemasaran.

4. Tahap pasar local (the stage of local markets)
Pertukaran dengan cara barter menemukan kesulitan karena tidak tentunya waktu dan tempat untuk melaksanakan pertukaran. Oleh karena itu dirasakan perlunya tempat (lokasi) dan waktu untuk melakukan pertukaran, yang dalam hubungan ini berbagai barang dikumpulkan pada tempat tertentu.

Dimulai hanya dilakukan pada hari-hari tertentu dan tempat tertentu, tetapi kemudian berkembang dan membentuk “pasar” yang tetap bersifat local. Pada tahap ini telah Nampak spesialisasi dalam penjualan sehingga konsep pemasaran semakin meluas.

5. Tahap ekonomi uang ( the stage of money economy )
Walaupun pertukaran barter merupakan cara pertukaran yang lebih maju dibanding dengan tahap sebelumnya, pada kenyataannya barter menimbulkan berbagai masalah. Masalah itu timbul juka barang-barang yang dipertukaran mempunyai nilai yang berbeda dan sulit dibagi-bagi.

Oleh kerena itu dirasakan perlu adanya alat tukar untuk mempelancar pertukaran. Pada mulanya digunakan sebagai alat tukar yang bermacam-macam seperti kerang, the, domba, dsb. Dalam perkembangan selanjutnya ditemukan logam sehingga logam inni secara berangsur banyak digunakan sebagai alat tukar, dan akhirnya dijadikan mata uang.

6. Tahap kapitalisme muda ( the stage of early capitalism )
Adanya spesialisasi usaha,pasar local dan mata uang, memberikan dorongan kepada unit usaha untuk memproduksi barang lebih banyak yang ditujukan untuk kebutuhan orang lain. Kondisi demikian memberikan kesempatan kepada para produsen untuk memperoleh keuntungan.

Golongan produsen yang berhasil mengumpulkan kekayaan lahir sebagai “kapitalis muda”, dan suplus kekayaan mulai ditukar dengan tenaga kerja.

Disamping para kapitalis muda ini dapat mengorganisasi tenaga kerja dalam suatu kegiatan proses produksi di berbagai sector ekonomi, juga sudah nampak usaha mencari pasar untuk menjual produksinya.

Dari volume produksinya Nampak bahwa jumlah produksi jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian pada tahap ini pemasaran dapat dipandang sebagai kegiatan mencari pembeli dan pemindahan barang mulai dari produsen sampai konsumen.

Slide1

Slide1